Biografi Nyai Hj. Makkiyah As’ad

 
Biografi Nyai Hj. Makkiyah As’ad

Istilah ulama identik dengan kaum laki-laki. Padahal, tidak bisa dipungkiri  bahwa  dalam  sejarah kemunculan  Islam, terdapat sejumlah  ulama perempuan yang memiliki kontribusi penting dalam membantu dakwah  dan penyiaran islam di Indonesia. Salah satu sosok ulama perempuan yang sangat dikenal oleh masyarakat Madura adalah Ibu Nyai Makkiyah As’ad.

Beliau  adalah isteri dari alm. Drs. KH. Shidqie Mudzhar, pengasuh pondok pesantren  Al-Huda Sumber Nangka, Duko Timur, Larangan, Pamekasan. Ketika suaminya wafat pada tahun 2002, kiprah Nyai Makki semakin dikenal, sebab perjuangan  pesantren secara otomatis dilanjutkan oleh ulama perempuan ini. Ketokohan Nyai Hj. Makkiyah As’ad tidak lepas dari darah yang mengalir dalam dirinya, karena beliau adalah putri  dari pelaku sejarah NU, yakni K.H. As’ad Syamsul Arifin dari  pesantren Salafiyah Syafi’iyah, Sukerojo, Situbondo.

Sebagai seorang anak dari ulama kharismatik, Nyai Hj. Makkiyah As’ad tentu saja memiliki modal spiritual dan intelektual untuk menjadi ulama perempuan yang bisa berperan penting dalam memperjuangkan syariat Islam di tengah-tengah pengaruh budaya Barat yang semakin tidak terbendung.

Sampai saat ini, Nyai Hj. Makkiyah As’ad menjadi tiga pengasuh pesantren sekaligus, yakni Pondok  Pesantren  Salafiyah  Safi’iyah,  Sukerojo,  Situbondo. Kedua, Pondok  Pesantren al-Huda Sumber Nangka, Larangan, Pamekasan. Ketiga, Pondok Pesantren As-Shidqiyah, Perum Batu Kencana, Batuan, Sumenep.

Kiprah dan posisi Nyai Hj. Makkiyah As’ad sebagai pengasuh tiga pesantren besar merupakan sebuah tanggung jawab yang tidak mudah untuk dilaksanakan. Namun, beliau masih tetap semangat untuk meneruskan perjuangan ayahanda dan suami tercintanya. Bahkan, di sela-sela sebagai pengasuh pesantren, beliau termasuk ulama perempuan yang tidak mau berpangku tangan meskipun ditinggal oleh alm. K.H. Shidqie Mudzhar.


Riwayat dan Kelahiran

 Beliau lahir di Situbondo, 31 Desember 1954 dari pasangan KH As’ad Syamsul Arifin dan Nyai Zubaidah Baidhowi. Beliau adalah anak keempat dari sembilan bersaudara, yakni Nyai Hj. Zainiyah As’ad, Nyai Hj. Mukarromah, Nyai. Hj. Makkiyah As’ad, Nyai Hj. Isaiyah As’ad, KH. Fawaid As’ad. Sementara saudara lain ibu adalah R.KH. Cholil As’ad Syamsul Arifin dan Abdurrahman.

Sosok Nyai Hj. Makkiyah As’ad yang lahir dari darah ulama terkemuka, semakin mempertegas posisi keulamaannya yang tidak bisa dianggap remeh. Ayahanda Nyai Hj. Makkiyah As’ad adalah seorang ulama terpandang yang menjadi pelaku sejarah lahirnya sebuah organisasi keagamaan terbesar di Indonesia, yakni NU. 

KH. As’ad Syamsul Arifin adalah anak pertama dari pasangan Raden Ibrahim atau KH. Syamsul Arifin dan Nyai Siti Maimunah yang keduanya berasal dari Pamekasan Madura. Dari jalur ayah, K.H. As’ad adalah keturunan Sunan Ampel dan dari pihak ibu masih memiliki garis keturunan dari Pangeran Ketandur, cucu langsung dari Sunan Kudus.

 

Masa Pendidikan

Sejak kecil beliau lahir dan dibesarkan di pesantren, dan hanya menempuh Pendidikan salaf setingkat Madrasah Tsanawiyah sekarang. Meski begitu, kecerdasan dan keilmuan Nyai Hj. Makkiyah tidak kalah dengan orang-orang yang menempuh pendidikan formal di zamannya. Bimbingan langsung dari ayahnya membuatnya bisa menjadi pribadi atau generasi muslim yang taat beragama dan bisa meneruskan perjuangan ulama.

Keluarga Beliau

Nyai Hj. Makkiyah menikah muda pada usia 16 tahun dengan KH. Nawawi Abdul Jalil dari pesantren Sidogiri, dan dikarunia 2 orang putri. Pernikahan Nyai Hj. Makkiyah dengan KH. Nawawi tidak berlangsung lama karena suratan takdir tidak menghendaki keduanya selalu bersama. Setelah berpisah dengan KH. Nawawi, Nyai Hj. Makkiyah As’ad menikah untuk kedua kalinya pada tahun 1980 dengan dua pupu beliau sendiri, yaitu Drs. KH. Shidqie Mudzhar, yang berasal Pondok Pesantren al-Huda Sumber Nangka, Duko Timur, Larangan, Pamekasan.

Drs. KH. Shidqie Mudzhar merupakan ulama terkemuka dari Pamekasan yang memiliki pengaruh luar biasa di tengah-tengah masyarakat. KH. Shidqie Mudzhar adalah seorang aktivis PMII, NU, dan dosen di berbagai perguruan tinggi di Jawa Timur. Bahkan, beliau menjadi salah satu pendiri kampus Universitas Islam Madura (UIM) Betet, Pamekasan, IAI Ibrahimy Sukerojo, dan IDIA al-Amien, Prenduan, Sumenep.

Hasil pernikahan Nyai Hj. Makkiyah dengan Drs. KH. Shidqie Mudhar dikarunia 5 orang putra-putri, diantaranya Nyai Hj. Makhsusi Zakiyah, Nyai Hj. Asma Zubaidah, Nyai Hj. Aisyatul As’adiyah, K. Zainul Hasan, dan Nyai Hj. Diana Kholidah. Sosok Ulama Perempuan Nyai Hj. Makkiyah As’ad di Mata Keluarga Sebagaimana yang dituturkan Nyai Hj. Aisyatul As’adiyah Shidqie, sosok Nyai Hj. Makkiyah As’ad adalah seorang figur ibu teladan yang memberikan perhatian penuh pada masa depan anak-anaknya.

Di mata Ning Dia, sapaan akrabnya, Nyai Hj. Makkiyah As’ad adalah sosok inspiratif yang berjuang tanpa kenal lelah untuk membesarkan anak-anaknya. Sejak ditinggal alm. Drs. KH. Shidqie Mudzhar, Nyai Makkiyah harus berjuang untuk membesarkan tiga anaknya yang masih kecil agar tetap tegar dalam menghadapi berbagai cobaan yang datang.

Sikap pantang menyerah diakui Nyai Hj. Aisyatul As’adiyah sebagai keteladanan yang pantas diikuti oleh semua saudara-saudaranya yang lain. Bagi Nyai Hj. Aisyatul As’adiyah, sosok Nyai Makkiyah adalah seorang ibu yang tegas dalam mendidik anak-anaknya. Jika anak yang bersangkutan memang salah, maka Nyai Hj. Makkiyah As’ad tidak akan segan-segan untuk menegur dan memberikan peringatan untuk tidak mengulangi perbuatannya lagi.

Meskipun dikenal sangat tegas, namun Nyai Hj. Makkiyah As’ad tidak menyimpan amarah yang berlebihan. Beliau memberikan kesempatan kepada anak-anaknya untuk memperbaiki sikap dan perilaku yang bertentangan dengan ajaran agama maupun norma di masyarakat. Sikap tegas disertai dengan kebijaksanaan dalam menyikapi setiap persoalan menjadi nilai keteladanan yang patut diikuti oleh semua santri dan keluarga besarnya.

Dalam pandangan Nyai Hj. Aisyatul As’adiyah, keberadaan Nyai Hj. Makkiyah As’ad di tengah-tengah keluarga merupakan sebuah anugerah yang luar biasa, karena beliau memberikan keteladanan kepada anak-anaknya untuk menjadi pribadi yang mandiri. Nyai Hj. Makkiyah mengajarkan kepada anak-anaknya bahwa perempuan tidak boleh sekadar berpangku tangan, tetapi harus belajar organisasi dan terjun langsung ke masyarakat.

Dorongan yang terus-menerus dari Nyai Hj. Makkiyah As’ad ini, membuat Nyai Hj. Aisyatul As’adiyah Shidqie semakin bersemangat untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. Saat ini Ning Dia tercatat sebagai mahasiswi Ekonomi Syariah, Pascasarjana UIN Sunan Ampel, Surabaya.

Dalam penuturan putranya, Lora Zainul Hasan, sosok Nyai Makki merupakan ibu yang sangat perhatian dalam memberikan kasih sayang kepada semua anak-anaknya. Meskipun memiliki aktifitas yang sangat padat, beliau tidak lupa untuk memberikan kasih sayang dengan sepenuh hati. Di tengah kesibukan mengisi acara pengajian dan menghadiri berbagai pertemuan muslimat, Nya Hj. Makkiyah As’ad terus memantau perkembangan anak-anaknya agar belajar dan mengaji setiap hari.

Memimpin Tiga Pesantren

Menjadi pengasuh tiga pesantren sekaligus merupakan sebuah hal yang langka bagi ulama perempuan di Madura, karena mengemban amanah yang sangat besar untuk mempertahankan eksistensi dan peran pesantren dalam pembangunan moralitas umat dan bangsa secara keseluruhan. Bagi Nyai Hj. Makkiyah As’ad, memimpin tiga pesantren sekaligus bukanlah sebuah kesengajaan, melainkan memang karena situasi dan kondisi yang mengharuskan beliau memegang kendali keberlangsungan pesantren yang dipimpinnya.

Sebagaimana diketahui bahwa Nyai Hj. Makkiyah As’ad adalah menjadi pengasuh tiga pesantren, yakni Pondok Pesantren Salafiyah Safiiyah, Sukerojo, Situbondo, Pondok Pesantren AlHuda, Sumber Nangka, Duko Timur, Larangan, Pamekasan, dan Pondok Pesantren As-Shidqiyah, Perum Batu Kencana, Batuan, Sumenep. Bagi penulis, menjadi pengasuh di tiga pesantren sekaligus merupakan hal yang luar biasa di tengah usianya yang sudah memasuki 60 tahun.

Sangat jarang ada ulama perempuan yang memegang kendali beberapa pesantren di Madura yang memang tonggak estafet kepemimpinan pesantren lebih banyak dipegang oleh kiai atau ulama laki-laki. Di pondok Pesantren Salafiah Syafi’iyah, Sukerojo, Nyai Hj. Makkiyah memegang kendali sebagai pimpinan pesantren yang dihuni puluhan ribu santri dari berbagai daerah di Indonesia.

Pesantren ini berlokasi di desa Sukorejo, Kecamatan Banyuputih, Situbondo, yang berdiri sejak tahun 1914 oleh KH. Syamsul Arifin yang merupakan asal Pamekasan Madura. Sepeninggal KH. Syamsul Arifin, estafet kepemimpinan pesantren dilanjutkan oleh putranya, yakni KH. As’ad Syamsul Arifin yang dikenal sebagai ulama kharismatik karena memiliki karomah sebagai seorang wali. 

Ciri khas dari pesantren ini adalah perpaduan antara sistem salaf dan sistem modern sehingga sampai sekarang jumlah santri yang mondok tidak kurang dari 15000 orang. Sampai saat ini, pesantren Salafiyah Syafi’iyah telah mengembangkan pendidikan umum, mulai dari tingkat SMP, SMA, Ma’had Aly dan Institut Agama Islam Ibrahimy.

Dalam penuturan Nyai Hj. Makkiyah As’ad, pesantren Salafiyah Syafi’iyah kemudian dipimpin oleh RKH. Fawaid As’ad, yang tiada lain merupakan saudaranya sendiri. KH. Fawaid As’ad merupakan tokoh NU yang berpengaruh di kalangan masyarakat bawah karena kewibaan yang melekat dalam dirinya. Dalam kepemimpinannya, KH. Fawaid telah melakukan banyak pembenahan dalam sistem pendidikan yang menyesuaikan dengan perkembangan zaman.

Salah satunya adalah diadakan pemilihan beberapa santri yang mempunyai prestasi agar bisa memegang kendali dalam kepengurusan pesantren. Menurut Nyai Hj. Makkiyah As’ad, usaha adiknya ternyata mampu menghasilkan terobosan yang luar biasa sehingga pesantren Salafiyah Syafi’iyah berkembang pesat sampai sekarang. Kepemimpinan KH. Fawaid harus terhenti karena beliau meninggal dunia dengan usia yang relatif masih sangat muda di usia 43 tahun, karena penyakit diabetes dan jantung.

Beliau meninggal tepatnya pada 9 Maret 2012 di Surabaya dan kemudian dimakamkan di samping makam ayahnya KH. As’ad Syamsul Arifin. Sepeninggal KH. Fawaid As’ad, pesantren Salafiyah Syafi’iyah kemudian dipimpin oleh KH. Azaim Ibrahimy. Pergantian pengasuh ini diceritakan langsung Nyai Hj. Makkiyah As’ad, putri Kiai As’ad Syamsul Arifin. Menurut Nyai Hj. Makkiyah As’ad, isyarat estafet kepemimpinan pondok pesantren Salafiyah Syafi’iyah dari KH. Fawaid As’ad ke tangan KH. Azaim Ibrahimy sudah ada sejak dulu.

Nyai Hj, Makkiyah As’ad sudah memaparkan isyarat ini di hadapan ribuan alumni Salafiyah Syafi’iyah di Mushalla Ibrahimy. Menurut beliau, sekitar tahun 1980, Nyai Zainiyah As’ad sering bercanda, setelah Kiai Fawaid, yang memimpin pesantren adalah Ra Zaim. Candaan tersebut ternyata sekarang menjadi kenyataan. Meskipun estafet kepemimpinan pesantren jatuh ke tangan KH. Azaim Ibrahimy, namun Nyai Hj. Makkiyah As’ad tetap memegang kendali sebagai ketua Yayasan Pesantren, karena dianggap memiliki kharisma sebagai ulama perempuan yang sangat luar biasa.

Bagi Nyai Makkiyah, pesantren Salafiyah Syafi’iyah merupakan amanah yang harus tetap diperjuangkan sampai titik darah penghabisan. Bersama dengan KH. Azaim Ibrahimy, yang juga merupakan keponakannya, Nyai Hj. Makkiyah As’ad membangun sinergi dan kerjasama untuk memajukan pesantren agar terus menjadi benteng terakhir moralitas umat dan bangsa dari kehancuran.

Demikian pula di Pondok Pesantren Al-Huda Sumber Nangka, Duko Timur, Larangan, Pamekasan, Nyai Hj. Makkiyah menjadi pengasuh yang memegang kendali semua kegiatan pesantren, termasuk kegiatan belajar di lembaga pendidikan formal mulai dari tingkat Madrasah Ibtidaiah (MI) sampai Madrasah Aliyah (MA).

Sepeninggal KH. Shidqi Mudzhar, secara otomatis kendali kepemimpinan pesantren berada di pundak Nyai Hj. Makkiyah As’ad yang secara berkala memantau langsung semua kegiatan pesantren.  Namun dua tahun kemudian, tepatnya pada tahun 2002, KH. Shidqie Mudzhar dipanggil Sang Maha Kuasa sehingga estafet kepemimpinan pesantren dipegang oleh Nyai Hj. Makkiyah As’ad.

Pondok Pesantren al-Huda Sumber Nangka, terletak di desa Duko Timur, Larangan, Pamekasan. Pesantren yang satu ini luasnya kurang lebih 30.0000 m2 , di mana sebelah baratnya berbatasan dengan perkampungan dan sebelah timurnya ada area persawahan yang sangat luas. Setidaknya adal 500-an santri yang menetap di asrama atau pun yang tidak menetap.

Sebagai alumni pesantren Al-Huda Sumber Nangka, penulis cukup mengenal keberadaan pesantren ini. Sebagian besar masyarakat mengenal pondok ini dengan sebutan Ponpes Sumber Nangka, karena di belakang pesantren ini terdapat sungai yang ada sumber mata airnya. Oleh sebagian warga sekitar, mata air yang mengalir tersebut dinamakan Sumber Nangka.

Pesantren Al-Huda Sumber Nangka menurut keterangan Nyai Hj. Makkiyah As’ad didirikan pada tahun 1907 oleh KHR. Zainuddin yang beristerikan Nyai Hj. Siti Aisyah dari Penang Malaysia. Sepeninggal KH. Shidqie Mudzhar, pesantren ini kemudian diasuh oleh Nyai Hj. Makkiyah As’ad. Sebagai pimpinan pesantren, Nyai Hj. Makkiyah As’ad mempunyai tanggung jawab yang sangat besar untuk meneruskan perjuangan suaminya yang sudah dipanggil sang maha kuasa.

Apalagi pesantren ini sudah berdiri lebih dari satu abad sehingga sistem pendidikan yang dijalankan harus mengikuti perkembangan zaman. Tidak heran bila ponpes yang diasuh oleh kakak kandung, KH. Fawaid As’ad ini dikenal sebagai pondok pesantren “basic nature” (pesantren yang berwawasan modern). Adanya jenjang pendidikan formal dan non-formal menjadi salah satu keunggulan pesantren ini. Pendidikan non formal diantaranya adalah pengajian kitab, jami’yatul qurro’ wal huffadz, diniyah, dan khitobah. Sementara pendidikan formal dimulai dari jenjang PAUD sampai MA.

Sementara pesantren ketiga yang dipimpin oleh Nyai Hj. Makkiyah As’ad adalah Pondok pesantren As-Shidqiyah, Perum Batu Kencana, Batuan, Sumenep. Pesantren ini didirikan oleh KH. Shidqie Mudzhar pada tahun 1998 di atas tanah yang dihibahkan oleh masyarakat setempat. Tujuan didirikannya pesantren ini tentu saja adalah untuk menyebarluaskan ajaran Islam di tengah-tengah masyarakat agar mampu membentengi umat dari perbuatan amoral.

Pesantren As-Shidqiyah didirikan sebagai cabang dari pesantren Al-Huda, Sumber Nangka. Meskipun pesantren ini hanya terdapat pendidikan PUAD dan madrasah diniyah, namun masyarakat sekitar sangat menyambut baik kegiatan-kegiatan keagamaan yang dilaksanakan secara rutin di pesantren ini. Ketika KH. Shidqie Mudzhar wafat pada tahun 2002, pucuk pimpinan pesantren secara otomatis dipegang oleh Nyai Hj. Makkiyah As’ad.

Semua bentuk kegiatan dan pembangunan pesantren berada di bawah pengawasan dan pantauan Nyai Hj. Makkiyah As’ad sehingga masyarakat harus berkordinasi langsung dengan beliau. Keberadaan pesantren ini diakui masyarakat sebagai sebuah anugerah yang luar biasa, karena didirikan oleh ulama besar dan dipimpin oleh putri pelaku sejarah NU, yakni KH. As’ad Syamsul Arifin.

Menurut penuturan K. Syamsul Hadi Anwar, salah seorang kerabat Nyai Hj. Makkiyah As’ad, pendirian pesantren As-Shidqiyah dimaksudkan untuk memberikan kesempatan kepada anak-anaknya untuk belajar menjadi pemimpin di masyarakat. Pesantren ini memang dipersiapkan untuk keturunan beliau agar siap menjadi ulama yang memimpin lembaga pendidikan pesantren.

Berdirinya lembaga pendidikan pesantren, seperti pesantren As-Shidqiyah, tentu saja dalam rangka memperluas jaringan dakwah yang bisa memberikan kesadaran spiritual dalam menerima nasehat-nasehat yang bersifat religius. Tujuan berdirinya lembaga pesantren ini tidak lepas dari keperihatinan KH. Shidqi Mudzhar dan Nyai Hj. Makkiyah As’ad terhadap dinamika moralitas yang terjadi di masyarakat bawah dan perkotaan.

Keperihatinan sang ulama memang cukup beralasan karena dekadensi moral masyarakat semakin tidak terkendali sehingga perlu dilakukan gerakan kultural-religius yang bisa memperkuat kegiatan keagamaan masyarakat agar semakin sadar akan pentingnya komunitas berlabel religius yang siap menampung semua kalangan dalam menimba ilmu agama.

 Eksistensi pesantren As-Shidqiyah dipimpin Nyai Hj. Makkiyah As’ad, diharapkan dapat membantu para santri untuk mendalami kitab-kitab kuning yang ditulis oleh ulama-ulama klasik terdahulu pada abad pertengahan sehingga target awal untuk mencetak kader-kader religius dapat tercapai. Selain penekanan kitab kuning sebagai pedoman dalam memecahkan persoalan umat, santri juga dilatih untuk menjadi pribadi muslim yang tangguh dan lebih mandiri dari segi psikologis.

Kematangan santri dalam menghadapi segala tantangan dari luar menjadi modal berharga dalam mengembangan potensi pribadinya agar lebih berkembang. Secara fungsional, keberadaan pesantren As-Shidqiyah tidak lepas dari tujuan awal berdirinya, yaitu untuk memperkenalkan ajaran-ajaran Islam yang bersifat primer dan menyangkut masalah ibadah mahdah sehingga penerapan ajaran agama dapat dikhayati dalam sanubari mereka masingmasing.

Tidak ayal bila beliau menjadi representasi ulama perempuan yang tidak hanya berpangku tangan, tapi mampu melakukan perubahan nyata di tengahtengah kehidupan masyarakat. 

Juru Dakwah Profesional

Kiprah keulamaan Nyai Hj. Makkiyah As’ad bukan sekadar dilandasi oleh ketokohan sang ayah sebagai ulama terkemuka di Nusantara, melainkan beliau memang memiliki kecerdasan dalam menyampaikan pesan-pesan agama secara jernih kepada masyarakat. Harus diakui bahwa Nyai Hj. Makkiyah memiliki modal simbolik yang berasal dari latar belakang keluarga yang memiliki kemasyhuran dan prestise tinggi sebagai ulama kondang yang berperan penting dalam pendirian organisasi keagamaan terbesar di Indonesia, yakni NU.

Jaringan keulamaan memang menjadi modal penting bagi seseorang untuk membangun relasi dan menjadi juru dakwah di tengah-tengah kehidupan masyarakat. Kekerabatan Nyai dalam tradisi pesantren di Madura memang menjadi modal utama dalam membangun sebuah relasi yang semakin mempermudah untuk menjadi juru dakwah atau mengisi pengajian umum di tengah-tengah kehidupan masyarakat. Harus diakui bahwa tradisi pesantren merupakan bentuk sistem sosial yang tumbuh melalui sistem kekerabatan yang dibangun kiai.

 Nyai Hj. Makkiyah As’ad untuk mengemban misi dakwah sebagaimana yang pernah dianjurkan oleh sang suami tercinta, KH. Shidqie Mudzhar. Ketokohan Kia As’ad merupakan pintu masuk bagi Nyai Hj. Makkiyah As’ad untuk berkiprah di bidang dakwah demi meneruskan perjuangan sang suami yang telah memberikan idzin kepada beliau untuk aktif dalam kegiatan sosial-keagamaan di masyarakat.

Modal latar belakang keluarga inilah yang membuat Nyai Makkiyah disegani sebagai ulama perempuan yang piawai dalam menyampaikan dakwahnya. Jika Nyai keturunan dari seorang kiai kharismatik dan banyak disegani masyarakat, maka posisi Nyai juga akan diperlakukan atau memperoleh penghormatan yang lebih baik.

Kiprah Nyai Hj. Makkiyah As’ad dalam bidang dakwah tidak lepas dari peran KH. As’ad yang sejak kecil sudah sering mengajak beliau untuk mengikuti acara pengajian maupun pertemuan organisasi NU. Sejak umur 7 tahun, Nyai Hj. Makkiyah As’ad sering di bawah ayahnya untuk menghadiri pengajian atau pun pertemuan NU. Dari bekal pengajaran sang ayah ini, membuat Nyai Hj. Makkiyah As’ad menjadi seorang ulama perempuan yang tidak takut dengan stigma negatif di tengah-tengah kehidupan masyarakat.

KH. As’ad memberikan pelajaran luar biasa bagi beliau yang telah mendidik dengan mandiri agar tidak hanya berpangku tangan di rumah, melainkan harus bisa melakukan kegiatan positif yang bermanfaat bagi masyarakat. Ketika menikah dengan KH. Shidqi Mudzhar pada tahun 1980, Nyai Hj. Makkiyah As’ad diberikan kebebasan untuk mengekspresikan keterampilannya dalam bidang dakwah.

Beliau dianjurkan untuk mengisi pengajian di desa-desa melalui acara muslimat dan fatayat yang berada di bawah naungan Nadhlatul Ulama. Dukungan penuh dari sang suami tercinta, membuat Nyai Hj. Makkiyah As’ad merasa terpacu untuk lebih giat dalam memberikan dakwah kepada masyarakat. Sejak itulah, Nyai Hj. Makkiyah As’ad aktif mengisi pengajian di berbagai acara muslimat, mulai dari tingkat ranting sampai tingkat pusat.

Kegiatan dakwah yang dijalani Nyai Hj. Makkiyah As’ad masih tetap berlangsung hingga sekarang. Beliau termasuk ulama perempuan yang aktif dalam memberikan dakwah, baik tingkat lokal, nasional, bahkan dunia. Selain diundang ke berbagai wilayah di Indonesia, beliau juga sering diminta untuk mengisi pengajian ke beberapa negara, semisal Malaysia, Singapura, Arab Saudi, dan lain sebagainya.

Dalam penuturannya, beliau mengatakan bahwa kegiatan dakwah tidak hanya sebatas wilayah Indonesia, tapi juga dari Malaysia, yang dihadiri oleh alumni Sukorejo, TKI, dan warga dari berbagai negara. Kiprah keulamaan Nyai Hj. Makkiyah dalam bidang dakwah tidak bisa diragukan lagi, karena kegiatan dakwah yang beliau jalani sudah menyentuh ke hampir seluruh wilayah Indonesia dan beberapa negara di Asia.
 

Ulama Perempuan yang Aktifis dan Berjiwa Sosial

Kiprah luar biasa yang ditorehkan Nyai Hj. Makkiyah As’ad ternyata tidak hanya di bidang pendidikan dan dakwah, tapi juga aktif dalam kegiatan organisasi keagamaan dan sosial di tengahtengah kehidupan masyarakat. Nyai Hj. Makkiyah As’ad adalah seorang aktifitas di berbagai organisasi ke-NU-an, semisal fatayat dan muslimat.

Perjalanan karir beliau dimulai sejak menikah dengan Almarhum KH. Shidqi Mudzhar, pengasuh pondok pesantren Al-Huda Sumber Nangka, Duko Timur, Larangan, Pamekasan. Beliau memperoleh idzin dari sang suami untuk ikut organisasi di bawah naungan Nahdlatul Ulama. Kegiatan organisasi dimulai dari tingkat ranting, PAC, PW, dan Pusat.

Sampai saat ini beliau tercatat sebagai anggota dewan penasehat Pimpinnan Pusat Muslimat NU periode 2011-2016. Posisi beliau lebih tinggi dibandingkan dengan Menteri Sosial, Hj. Khofifah Indar Parawansa yang menjabat sebagai Ketua Umum Muslimat NU.

Perjalanan karir beliau di organisasi muslimat, bukan sekadar faktor keturunan ulama besar yang menjadi pelaku sejarah dari sebuah organisasi keagamaan terbesar di Indonesia, melainkan juga ditopang oleh kepemimpinan yang sangat kharismatik dan memiliki pesan-pesan moral yang sangat menyentuh hati masyarakat.

Keterlibatan Nyai Hj. Makkiyah As’ad dalam kegiatan organisasi menunjukkan sebuah kiprah ulama perempuan Madura yang memiliki komitmen tinggi untuk memperjuangan NU dari segala bentuk ancaman. Nyai Hj. Makkiyah As’ad menyadari betul bahwa organisasi NU harus dikawal sebagai sebuah perjuangan untuk mempertahankan ajaran ahlussunah wal jamaah yang menjadi bagian penting dari ajaran Nabi Muhammad SAW.

Selain itu, Nyai Hj. Makkiyah dikenal sebagai sosok ulama perempuan yang berjiwa sosial kepada semua orang, baik kepada kerabat, sanak saudara, santri, maupun masyarakat secara umum. Beliau juga sering melakukan bakti sosial untuk anak yatim dan mengadakan doa bersama untuk masa depan mereka agar tetap semangat dalam menjalani kehidupan. Yang paling penting juga adalah bahwa beliau sangat menekankan pada santrinya untuk rajin bersilaturrahmi sebagai modal dasar untuk mempererat persaudaraan antar sesama manusia.

 

 

Sumber: Dari Berbagai Sumber