Biografi KH. Syafi’i Pekalongan

 
Biografi KH. Syafi’i Pekalongan

Daftar Isi Profil KH. Syafi’i Pekalongan

  1. Kelahiran
  2. Wafat
  3. Keluarga
  4. Pendidikan
  5. Merintis Pesantren
  6. Peranan di Nahdlatul Ulama (NU)
  7. Pejuang Melawan Penjajah

Kelahiran

KH. Syafi’i lahir pada tahun 1908 M di Dukuh Kemisan yang sekarang termasuk wilayah Kradenan. Beliau merupakan putra kedua dari pasangan KH. Abdul Majid bin Katijoyo dan Ibu Ruqoyyah.

Saudara-saudara beliau diantaranya, H. Mawardi, H. Sya’ban, H. Sausari, dan H. Khulari.

Keluarga

KH. Syafi’i melepas masa lajangnya dengan menikahi Ibu Shofiyah. Setelah kepergian istri pertama kepada sang ilahi, kemudian beliau menikah kembali dengan Ibu Munipah.

Wafat

KH. Syafi’i wafat pada tahun 1982 M di Jakarta. Jenazah beliau dimakamkan di pemakaman belakang Masjid Jami’ Pringlangu Pekalongan. Haul KH. Syafi’i diperingati setiap tanggal 11 Rabiul Awwal setiap tahunnya.

Pendidikan

KH. Syafi’i memulai pendidikannya dengan belajar ilmu agama langsung kepada ayahnya, KH. Abdul Majid (pendiri Masjid Jami Pringlangu, sekarang dikenal sebagai Masjid Jami’ Asy-Syafi’i).

Setelah selesai belajar kepada ayahnya, beliau melanjutkan pendidikannya dengan nyantri di Pondok Pesantren Kempek Cirebon. Setelah selesai di Kempek, beliau melanjutkan kembali nyatri di Pondok Kaliwungu dan Pondok Tebuireng.

Merintis Pesantren

Setelah pulang ke Pekalongan KH. Syafi’i mengajar Tafsir al-Qur’an di musholla di samping rumahnya serta mengajar juga di Masjid Pringlangu. Ketekunan dan konsisten dalam mengajar agama membuat KH. Syafi’i kemudian terkenal. Sehingga, santrinya semakin hari semakin bertambah banyak.

Selain itu, KH. Syafi’i juga sangat berperan dalam perkembangan dunia pendidikan di Pekalongan Selatan, yaitu dengan pendirian pondok pesantren dan sejumlah sekolah, diantaranya Madrasah Ibtidaiyah Islamiyah (MII Pringlangu), SDI Buaran, SMP Islam Buaran (Komplek YPI Buaran), dan bersama KH. Akrom Khasani kemudian merintis Pondok Pesantren Buaran.

KH. Syafi’i adalah teladan bagi masyarakat Pekalongan dan keluarganya. Abdul Hakim Kurniawan, salah seorang putra KH. Syafi’i mengatakan bahwa ayahnya selalu menekankan kepada anak-anaknya dan sangat melarang menggunakan namanya untuk mencapai suatu tujuan. “KH. Syafi’i selalu mengajarkan anaknya supaya mandiri. Ayah tidak senang jika anaknya mengunakan nama besarnya untuk meraih sesuatu,” ungkapnya.

Diantara ajaran KH. Syafi’i yang disampaikan kepada para santrinya adalah untuk senantiasa menjaga kelestarian al-Qur’an serta hidup bermasyarakat dengan tetap memegang teguh al-Qur’an sebagai kendali dalam kehidupan.

Peranan di Nahdlatul Ulama (NU)

Setelah agresi militer Belanda kedua, perjuangan KH. Syafi’i berlanjut, salah satunya adalah merintis lahirnya Jam’iyah Nahdlatul Ulama di Kabupaten Pekalongan. Selain itu, beliau juga berperan dalam bidang politik, yaitu lewat Partai Masyumi.

Partai tersebut merupakan gabungan dari beberapa ormas Islam di Indonesia. Lewat Masyumi KH. Syafi’i menjadi salah satu anggota DPRD Kabupaten Pekalongan pada pemilu pertama tahun 1955. Dalam bidang pemberdayaan ekonomi kerakyatan, kiprah KH. Syafi’i diwujudkan lewat Koperasi Pembatikan Buaran.

Kiprah dari tokoh kita ini memang luar biasa, salah satunya adalah melahirkan gagasan yang kemudian menjadi cikal bakal lahirnya Musabaqoh Tilawatil Qur’an Tingkat Nasional sekitar tahun 1950-an. Hanya sayangnya, gagasannya baru teralisir tahun 1968 setelah sahabatnya KH. Muhammad Ilyas menjadi Menteri Agama.

Pejuang Melawan Penjajah

Nama KH. Syafi’i tidak bisa dilepaskan dari perjuangan mengusir penjajah dan mempertahankan kemerdekaan Republik Indonesia di wilayah Pekalongan khususnya peranan beliau dalam Pertempuran Kebon Rojo 3 Oktober 1945 Pekalongan.

Sampailah pada suatu kabar bahwa Bung Karno dan Bung Hatta telah mengumumkan kemerdekaan Indonesia. Hal ini menimbulkan gejolak di masyarakat Pekalongan. Pemuda-pemuda Pekalongan kala itu bertekad untuk meminta Jepang secepatnya menyerah. Menurut penuturan Ken Raharja, KH. Syafi’i ikut memelopori pengibaran bendera merah putih dalam sebuah upacara yang di pusatkan di Kajen pada akhir September 1945.

KH. Syafi’i bersama Kiai Siraj dan sejumlah tokoh-tokoh lainya mendukung dikukuhkanya Mister Besar sebagai Residen Pekalongan oleh Presiden Soekarno.

Untuk itulah, kemudian diadakan rapat di alun-alun Pekalongan. Tidak lama kemudian segera diumumkan kemerdekaan Indonesia dan secara resmi Jepang menyerahkan kekuasaannya pada Mister Besar pada hari Kamis 27 September 1945. Setelah itu pada hari Sabtu 29 September 1945, sekitar pukul 07.30 pagi diadakan pawai untuk menyambut kemerdekaan dengan diikuti ribuan orang dan barisan memanjang hingga mencapai 3 km.

Tanggal 3 Oktober 1945 sehabis salat Subuh, ribuan orang dari Doro, Kedungwuni, Kajen, Wonopringgo, Pekajangan, dan Pekalongan sudah berada di halaman rumahnya. Mereka berkumpul dan meminta didoakan sebelum berangkat menuju markas kempetai. Usaha-usaha pengambilalihan kekuasaan dari tangan Jepang, tidak sepenuhnya berjalan mulus. Hal itu dikarenakan Jepang masih memegang kendali dan belum mau menyerahkan kekuasaan dan persenjataan miliknya.

Menurut Lukman Hakim warga Pringlangu Gg. 5, barisan pemuda memenuhi jalan dari depan rumah KH. Syafi’i hingga ke Bendo Buaran dan ke arah utara sampai di sekitar Medono. Setelah didoakan, mereka dengan membawa perlengkapan seadanya, kemudian mengepung markas kempetai di depan lapangan Kebon Rodjo yang sekarang Masjid Syuhada.

Para delegasi Pekalongan termasuk KH. Syafi’i berada di barisan depan sambil menunggu perwakilan Pekalongan berunding dengan pimpinan tentara Jepang. Almarhum Haji Jazuli warga Sampangan menceritakan KH. Syafi’i tokoh yang tampil di barisan paling depan bersama para santrinya. KH. Syafi’i bersama Kiai Siraj berupaya mengobarkan semangat jihad untuk mengusir penjajah Jepang dari tanah Pekalongan.

Pertempuran tak seimbang itu menyebabkan 37 korban dan 12 lainnya luka-luka dari pihak pejuang Pekalongan. Namun, banyak pejuang kita yang menewaskan tentara Jepang, yang akhirnya angkat kaki dari wilayah Pekalongan. Semenjak itulah, Pekalongan pada tanggal 7 Oktober 1945 merupakan daerah di Indonesia yang terbebas dari belenggu Jepang.

Kiprah KH. Syafi’i kemudian berlanjut saat negara ini baru saja merdeka. Pada waktu itu pemerintahan baru berumur beberapa bulan harus menghadapi ujian dari gerombolan Tiga Daerah. Tiga Daerah ingin menguasai dan mengganti elit birokrat dengan pemimpin baru mengatasnamakan pilihan rakyat.

KH. Syafi’i dan Kiai Siraj kemudian diutus oleh Residen R. M. Soeprapto untuk mengikuti pertemuan yang digagas oleh pemimpin Tiga Daerah di Pemalang. Dalam perjalanan dengan mobil menuju Pemalang kedua tokoh Pekalongan beberapa kali harus berhenti diperiksa oleh pengikut-pengikut Tiga Daerah yang bersenjatakan parang dan bambu runcing.

Ketika sampai di Pemalang, KH. Syafi’i dan Kiai Siraj mendengarkan penjelasan salah satu tokoh Tiga Daerah, yaitu K. Mijaya. KH. Syafi’i dan Kiai Siraj segera menarik kesimpulan bahwa gerombolan Tiga Daerah berhaluan komunis sehingga keduanya segera meninggalkan lokasi perundingan. Beruntung dalam waktu dekat TKR segera bertindak dan menangkap pelaku Tiga Daerah dan menyidangkanya di Pengadilan Negeri Pekalongan.

Atas pejuangnya tersebut, KH. Syafi’i adalah salah satu Suri Tauladan bagi masyarakat khususnya Pringlangu dan sekitarnya. Mengingat jasa besar Beliau untuk Pekalongan dan Bangsa Indonesia, ada usulan yang menyatakan bahwa nama KH. Syafi’i akan dijadikan sebagai nama jalan antara Medono sampai Buaran (Mbendo) menggantikan nama jalan yang saat ini digunakan.