Biografi KH. Muhammad Ilyas

 
Biografi KH. Muhammad Ilyas

Daftar Isi Profil KH. Muhammad Ilyas

  1. Kelahiran
  2. Wafat
  3. Keluarga
  4. Pendidikan
  5. Peranan di Nahdlatul Ulama (NU)
  6. Karier Politik
  7. Kisah-Kisah

Kelahiran

KH. Muhammad Ilyas lahir pada 23 Nopember 1911 di desa Krucil, Kecamatan Kraksaan Probolinggo. Beliau merupakan anak pasangan dari KH. Qulyubi dengan Mardliyyah putri KH. Ilyas, seorang ulama kharismatik asal Sewulan, Madiun. Adik perempuan ibunya, bernama Nafiqah, dinikahi oleh KH. Hasyim Asy’ari.

Wafat

KH. Muhammad Ilyas wafat pada 5 Desember 1970 di RSUP. Cipto Mangunkusumo. Beliau dikebumikan di Taman Makam Pahlawan Kalibata Jakarta.

Keluarga

Pada tahun 1936 KH. Muhammad Ilyas melepas masa lajangnya dengan menikahi Zahrah, putri H. Ismail, seorang saudagar dari Pekalongan.

Setelah menikah, beliau berhijrah dan menetap di Pekalongan. Di kota Batik ini, KH. Muhammad Ilyas memulai kiprah dakwahnya.

Pendidikan

KH. Muhammad Ilyas kecil tumbuh dalam didikan paman dan bibinya. Kemudian melanjutkan pendidikannya dengan belajar di HIS (Hollands Indische School) di Bubutan Surabaya. Ketika sekolah di HIS, beliau seangkatan dengan Ruslan Abdul Ghani (tokoh PNI) dan Dul Arwana (Wali Kota Surabaya pertama pasca kemerdekaan).

Setelah tamat HIS, KH. Muhammad Ilyas kemudian dikirim oleh sang ayah untuk nyantri kepada paman iparnya sendiri, KH. Hasyim Asy’ari, di Pondok Pesantren Tebuireng. Selama di Tebuireng KH. Muhammad Ilyas bersama KH. Wahid Hasyim, sepupunya yang lebih muda 3 tahun, belajar bahasa Inggris dan Belanda.

Kecerdasan dan ketekunan membuat KH. Muhammad Ilyas mendapatkan kesempatan sebagai pengajar sejak usia 15 tahun di madrasah Tebuireng menggantikan KH. Ma’shum Ali.

Di antara langkah yang ditempuh KH. Muhammad Ilyas kemudian adalah memasukkan kurikulum umum seperti membaca dan menulis huruf latin, ilmu aljabar, ilmu bumi, dan bahasa. Pada masa itu, langkah tersebut terbilang kontroversial, sehingga banyak mendapatkan kritikan dari para kiai. Meski demikian proses pembelajaran umum di Madrasah Salafiyyah Tebuireng waktu itu tetap dijalankan, karena KH. Hasyim Asy’ari sendiri sangat mendukung hal tersebut.

Sejak saat itulah, berbagai surat kabar, majalah dan buku pengetahuan umum masuk ke Pesantren Tebuireng. Langkah ini terbukti berhasil mana kala di kemudian hari banyak alumnus Tebuireng yang menjadi anggota Sangi Kai (Dewan Karesidenan), karena memiliki banyak pengetahuan umum.

Setelah empat tahun menjadi kepala madrasah di Tebuireng, pada tahun 1932 KH. Muhammad Ilyas bersama KH. Wahid Hasyim berangkat ke tanah suci menunaikan ibadah haji dan menetap di sana selama dua tahun. Setelah kembali ke Tebuireng, bersama sepupunya itu, KH. Muhammad Ilyas mendirikan madrasah Nizhamiyyah yang memiliki jenjang pendidikan:

  1. Madrasah Awaliyyah 2 tahun
  2. Madrasah Ibtida’iyyah 3 tahun
  3. Madrasah Tsanawiyyah 3 tahun
  4. Madrasah Muallimin Wustho 2 tahun
  5. Madrasah Muallimin Ulya 3 tahun

Peranan di Nahdlatul Ulama (NU)

Kedekatan nasab dan sanad ilmu KH. Muhammad Ilyas dengan KH. Hasyim Asy’ari menjadikan beliau ditunjuk menjadi Konsul NU untuk Jawa Tengah bagian utara (setingkat ketua pengurus wilayah). Beliau pun dengan serius mengurus NU dan berusaha mencetak kader-kader muda untuk secara aktif terlibat dalam gerakan dakwah NU. Semangatnya yang berapi-api dan militansinya yang dalam kepada NU membuahkan hasil nyata, yaitu dengan terbentuknya cabang NU di seluruh kabupaten dan kota di Jawa Tengah, bahkan sampai ke tingkat MWC di Kecamatan.

Karier Politik

Belum puas hanya berdakwah di NU, pada tahun 1950 KH. Muhammad Ilyas merambah dunia politik dengan menjadi salah seorang anggota parlemen dari partai MASYUMI mewakili unsur NU. Ketika NU keluar dari MASYUMI dan menjadi partai sendiri, bersama 7 orang lainnya, KH. Muhammad Ilyas tetap setia mengawal NU di parlemen.

Pada saat itu, masjid nasional selesai dibangun, maka beliau memberikan usulan nama kepada Presiden Sukarno: Istiqlal. Beliau juga terlibat dalam proses pembangunan Masjid al-Azhar di daerah Kebayoran yang kemudian melambungkan nama besar Buya Hamka.

Setelah 5 tahun menjadi anggota legislatif, KH. Muhammad Ilyas kemudian diangkat sebagai menteri agama periode 1955-1959. Aktivitasnya sebagai menteri agama tidak membuat beliau melalaikan tugasnya untuk mengurusi NU. Tugasnya sebagai Wakil Ketua II (1954-1956) PBNU, tetap dijalankan dengan baik.

Sebagai menteri agama, seperti diceritakan oleh KH. Mafthuh Basyuni (mantan Menteri Agama) yang masih menantunya sendiri, KH. Muhammad Ilyas melakukan berbagai terobosan yang masih dapat kita jumpai sampai saat ini yaitu pendirian KUA dan Pengadilan Agama. untuk menjaga dan meningkatkan kualitas guru agama, beliau juga merintis ADIA (Akademi Dinas Ilmu Agama) pada 1957. Dalam perjalanannya, ADIA akhirnya dilebur ke dalam IAIN.

KH. Muhammad Ilyas merupakan figur yang obyektif dan jauh dari fanatik golongan. Meskipun beliau seorang kader NU tulen, akan tetapi saat menjabat Menteri Agama beliau memilih staf sesuai dengan keahliannya, tanpa melihat dari latar belakang ormas Islam manapun. Ini menjadi bukti keluasan ilmu yang melahirkan kebijaksanaan.

Selepas menjadi Menteri Agama pada tahun 1959, KH. Muhammad Ilyas diangkat menjadi Dubes RI untuk Saudia Arabia-Oman-Yaman sekaligus. Tugas ini beliau jalani hingga tahun 1964. Kemudian pada Kabinet Dwikora tahun 1964-1966 beliau ditugaskan sebagai Menteri Urusan Hubungan Pemerintah dan Ulama.

Kisah-Kisah

Suatu sore pada akhir tahun 1915, KH. Wahab Chasbullah, yang akrab disapa Mbah Wahab berkunjung ke Tebuireng hendak bertamu kepada KH. Hasyim Asy’ari, tokoh pendiri NU. Di halaman rumah, beliau menjumpai KH. Muhammad Ilyas yang berusia kurang lebih 4 tahun, yang sedang bermain dengan seekor angsa. “Gus mengapa suara angsa ini begitu keras?” tanya Mbah Wahab.

Si bocah yang biasa dipanggil Gus Mad itu spontan menjawab, “Karena takdir Allah” Dengan nada menggoda, Mbah Wahab berkata, “ Bukan, tetapi ya karena angsa ini lehernya panjang.” Bocah lugu itu tidak sepakat dan kembali menjawab, “Kalau begitu, mengapa kodok yang lehernya pendek suaranya lebih keras dan ular yang lehernya panjang justru tidak bersuara?Mbah Wahab yang takjub dengan jawaban itupun tertawa dan menepuk pundak si bocah. “Sampeyan memang istimewa, Gus.”