Habib Abdulllah Bin Mukhsin (Habib Empang Bogor)

 
Habib Abdulllah Bin Mukhsin (Habib Empang Bogor)

Daftar Isi Profil Habib Abdulllah Bin Mukhsin (Habib Empang Bogor)

  1. Kelahiran
  2. Nasab
  3. Wafat
  4. Keluarga
  5. Pendidikan
  6. Murid
  7. Karya-Karya

Kelahiran

Al-Habib Abdullah bin Muchsin Al-Aththas dilahirkan di desa Haurah, salah satu desa di al-Kasri, Hadhramaut, Yaman, pada hari selasa 20 Jumadil Awal 1265 H.

Nasab

Al Habib Abdullah bin Mukhsin bin Muhammad bin Abdullah bin Muhammad bin Mukhsin bin Al-Quthb Husen bin Syekh Al Quthb Anfas Al Habib Umar bin Abdurrohman Al Aththas bin ‘Aqil bin Salim bin Abdullah bin Abdurrahman bin Abdullah bin Abdurrahman as-Seqqaf bin Muhammad maulad dawilah bin Ali maulad dark bin Alwy al-Ghayyur bin Al-Faqih Al-Muqaddam Muhammad bin Ali bin Muhammad shahib marbath bin Alwy khali’ qatsam bin Alwy bin Muhammad bin Alwy Ba’Alawy bin Ubaidullah bin Ahmad al-Muhajir bin Isa ar-Rumi bin Muhammad an-naqib bin Ali al-uraidhi bin Ja’far Shadiq bin Muhammad al-Baqir bin Ali Zainal Abidin bin Imam Husein as-sibth bin Ali bin Abi Thalib ibin Sayidatina Fatimah az-Zahra binti Rasulullah SAW.

Wafat

Semasa hidupnya sampai menjelang akhir hayatnya Habib Abdullah Bin Al-Athas selalu membaca Salawat Nabi yang setiap harinya dilakukan secara dawam dibaca sebanyak seribu kali, dengan kitab Salawat yang dikenal yaitu “Dalail Khoirot” artinya kebaikan yang diperintahkan oleh Allah SWT. Sampai pada hari selasa tanggal 29 bulan Dzulhijah 1351 H, di awal waktu dhuhur Habib Abdullah Bin Al-Athas dipanggil kehadirat Allah SWT.

Jenazah beliau dimakamkan keesokan harinya setelah sholat dhuhur, tak terhitung jumlah manusia yang ingin ikut mensholatkan jenazah beliau, yang dimakamkan dibagian barat masjid beliau di Empang-Bogor. Sebelum wafat beliau yang dikarenakan flu ringan, kebanyakan waktunya ditenggelamkan dalam dzikirnya dan doanya kepada Allah SWT sampai beliau pulang kepangkuan Allah SWT.

Keluarga

Habib Abdullah Bin Al-Athas melepas masa lajangnya dengan menikahi seorang wanita keturunan dalem Sholawat. Buah dari pernikahannya, beliau dikaruniai lima orang anak, diantaranya,

  1. Habib Mukhsin Bin Abdullah Al Athas
  2. Habib Zen Bin Abdullah Al Athas
  3. Habib Husen Bin Abdullah Al Athas
  4. Habib Abu Bakar Bin Abdullah Al Athas
  5. Sarifah Nur Binti Abdullah Al Athas

Pendidikan

Habib Abdullah Bin Al-Athas memulai pendidikanya dengan mempelajari Al-Quran kepada Mu’alim Syekh Umar bin Faraj bin Sabah. Setelah menghatamkan al-Qur’an beliau diserahkan kepada ulama-ulama besar di masanya untuk menimba ilmu Islam, dan Al Habib Abdullah Bin Mukhsin pernah belajar Kitab risalah karangan Al-Habib Ahmad Bin Zen Al Habsi.

Kepada Al-Habib Abdullah Bin A’lwi Alaydrus sering menemui Imam Al Abror Al Habib Ahmad Bin Muhammad Al Muhdhor. Selain itu, beliau juga sempat mengunjungi beberapa Waliyulllah yang tingal di Hadramaut seperti Al-Habib Ahmad Bin Abdullah Al Bari seorang tokoh sunah dan asar. Dan Syeh Muhammad Bin Abdullah Basudan. Beliau menetap di kediaman Syeh Muhammad basudan selama beberapa waktu guna memperdalam Agama.

Pada tahun 1282 Hijriah, Habib Abdulllah Bin Mukhsin menunaikan Ibadah haji yang pertama kalinya. Selama di tanah suci beliau bertemu dan berdialog dengan ulama–ulama Islam terkemuka. Kemudian, seusai menjalankan ibadah haji, beliau pulang ke Negrinya dengan membawa sejumlah keberkahan. Beliau juga mengunjungi Kota Tarim untuk memetik manfaat dari wali–wali yang terkenal.

Setelah dirasa cukup maka beliau meninggalkan Kota Tarim dengan membawa sejumlah berkah yang tidak ternilai harganya. Beliau juga mengunjungi beberapa Desa dan beberapa Kota di Hadramaut untuk mengunjungi para Wali dan tokoh–tokoh Agama dan Tasawuf baik dari keluarga Al-A’lwi maupun dari keluarga lain.

Pada tahun 1283 H, Beliau melakukan ibadah haji yang kedua. Sepulangnya dari Ibadah haji, beliau berkeliling ke berbagai peloksok dunia untuk mencari karunia Allah SWT dan sumber penghidupan yang merupakan tugas mulia bagi seorang yang berjiwa mulia.

Dengan izin Allah SWT, perjalanan mengantarkan beliau sampai ke Indonesia. beliau bertemu dengan sejumlah Waliyullah dari keluarga Al Alwi antara lain Al-Habib Ahmad Bin Muhammad Bin Hamzah Al-Athas.

Sejak pertemuanya dengan Habib Ahmad beliau mendapatkan Ma’rifat. Dan, Habib Abdullah Bin Mukhsin diawal kedatangannya ke Jawa memilih Pekalongan sebagai Kota tempat kediamannya.

Guru beliau Habib Ahmad Bin Muhammad Al-Athas banyak memberi perhatian kepada beliau sehinga setiap kalinya gurunya menunjungi Kota Pekalongan beliau tidak mau bermalam kecuali di rumah Habib Abdullah Bin Mukhsin Al Athos.

Dalam setiap pertemuan Habib Ahmad selalu memberi pengarahan rohani kepada Habib Abdullah Bin Mukhsin sehingga hubungan antara kedua Habib itu terjalin amat erat. Dari Habib Ahmad beliau banyak mendapat manfaat rohani yang sulit untuk dibicarakan didalam tulisan yang serba singkat ini.

Murid

  1. Habib Alwi Bin Muhammad Bin Thahir
  2. Syekh Abdullah bin Muhammad Arfan Baraja

Karomah

Dalam perjalanan hidupnya, Al Habib Abdullah bin Muhchsin Alatas pernah dimasukkan kedalam penjara oleh pemerintah Belanda pada masa itu dengan alasan yang tidak jelas (difitnah).

Selama dipenjara, kekeramatan beliau makin nampak yang mengundang banyak pengunjung untuk bersilahturahmi dengan beliau. Sampai mengherankan pimpinan penjara dan para penjaganya, bahkan sampai mereka pun ikut mendapatkan keberkahan dan manfaat dari kebesaran beliau.

Selama di penjara ke keramatan Habib Abdullah Bin Mukhsin semakin tampak sehingga semakin banyak orang yang datang berkunjung kerpenjaraan tersebut. Tentu saja hal itu mengherankan para pembesar penjara dan penjaganya. Sampai mereka pun ikut mendapatkan berkah dan manfaat dari kebesaran Habib Abdullah dipenjara.

Setiap permohonan dan hajat yang pengunjung sampaikan kepada Habib Abdullah Bin Mukhsin selalu dikabulkan Allah SWT, para penjaga merasa kewalahan menghadapi para pengunjung yang mendatangi beliau Mereka lalu mengusulkan kepada kepala penjara agar segera membebaskan beliau. Namun, ketika usulan ditawarkan kepada Habib Abdullah beliau menolak dan lebih suka menungu sampai selesainya masa hukuman.

Dalam kejadian di penjara, pada suatu malam pintu penjara tiba-tiba telah terbuka dan telah datang kepada beliau, kakek beliau Al-Habib Umar bin Abdurrahman Alatas (Shohibul Ratib), seraya berkata, ”jika engkau ingin keluar penjara keluarlah sekarang, tapi jika engkau bersabar, maka bersabarlah”.

Dan ternyata beliau memilih bersabar dalam penjara. Pada malam itu juga, beliau telah datangi Sayyidina Al Faqih Muqaddam dan Syekh Abdul Qadir Jaelani. Pada kesempatan itu Sayyidina Al Faqih Muqaddam memberikan sebuah kopiah Al Fiyah kepada beliau, dan Syekh Abdul Qadir Jaelani memberikan surbannya kepada beliau. Ternyata di pagi harinya kopiah tersebut masih tetap berada di kepala al-Habib Abdullah bin Muhsin Alattas. Padahal beliau bertemu dengan al-Faqih al-Muqadam hanya dalam mimpi.

Disebutkan juga dalam sebuah cerita ketika pimpinan penjara menyuruh bawahannya untuk mengikat leher Habib Abdullah Bin Mukhsin dengan rante besi maka atas izin Allah rantai itu terlepas, dan pemimpin penjara beserta keluarga dan kerabatnya mendapat sakit panas, dokter tak mampu mengobati penyakit pemimpin penjara dan keluarganya itu, barulah kemudian pemimpin penjara sadar bahwa penyakitnya dan penyakit keluarganya itu diakibatkan karena dia telah menyakiti Al Habib yang sedang dipenjara.

Kemudian, kepala penjara pengutus bawahannya untuk mendoakan, penyakit yang diderita oleh kepala penjara dan keluarganya itu agar sembuh, maka berkatalah Habib Abdullah kepada utusan itu ambillah borgol dan rante ini diikatkan di kaki dan leher pemimpin penjara itu, maka akan sembuhlah dia.

Kemudian dikerjakanlah apa yang dikatakan oleh Habib Abdullah, maka dengan izin Allah SWT penyakit pimpinan penjara dan keluarganya seketika sembuh. Kejadian ini menyebabkan pimpinan penjara makin yakin akan kekeramatan Habib Abdullah Mukhsin Al Athas.

Kisah Ikan Sebelah

Pada saat beliau datang ke Empang Bogor, di sana disebutkan bahwa Empang yang pada saat itu belum ada penghuninya, namun dengan ilmu beliau bisa menyala dan menjadi terang benderang.

Diceritakan, ada kekeramatan yang lain terjadi pula ketika beliau tengah makan di pinggiran empang, kebetulan pada saat itu datang kepada beliau seorang penduduk Bogor dan berkata, “Habib, kalau anda benar-benar seorang Habib Keramat, tunjukanlah kepada saya akan kekeramatannya”

Pada saat itu kebetulan Habib Abdullah Bin Mukhsin Al Athas tengah makan dengan seekor ikan dan ikan itu tinggal separuh lagi, maka Habib Abdullah berkata, ”Yaa sama Anjul ilaman Tabis,” (wahai ikan kalau benar-benar cinta kepadaku tunjukanlah), maka atas izin Allah SWT, seketika itu juga ikan yang tinggal sebelah lagi meloncat ke empang, konon ikan sebelah tersebut sampai sekarang masih hidup.

Karya-Karya

Adapun kitab Habib Abdullah Bin Al-Athas yang terkenal antara lain:

  1. Faturrabaniah
  2. Ratibul Ahtas dan Ratibul Hadad